Jumat, 08 Mei 2015

Bercengkrama dengan Sang Penyejuk Hati

Barang kali ini adalah hal sepele. Selalu melaporkan kepada-Nya apa yang ingin kita lakukan dalam seharinya, bak anak kecil berceloteh kepada orang tua tentang kegiatan yang akan dan setelah kita lakukan. Coba bayangkan, bagaimana reaksi orang tuamu saat kau sering bercerita tentang kegiatan sehari-harimu? Aku yakin, mereka merasa dihargai walau kadang-kadang ekspresi itu tidak terlihat. Dengan tidak ada maksud menyamakan Tuhan dengan manusia, Allaah pun tentu akan semakin sayang kepada hamba-Nya apabila ia selalu meminta restu kepada-Nya dalam setiap aktivitasnya
.
Sebenarnya Allaah pun tanpa kita laporan pun Ia sudah pasti Maha Mengetahui segaalanya. Ia tidak butuh laporan kita, tidak butuh celotehan kita. Tapi dengan cara inilah kita menunjukkan betapa kita butuh bimbingan Sang Maha Kuat agar selalu menguatkan kita dalam setiap aktivitas kita, tegar menghadapi masalah dalam kegiatan kita, selalu berada dalam koridor yang dibolehkan Allaah kepada hamba-Nya, dan lain sebagainya. Kawan, kita adalah makhluk yang lemah, mudah putus asa, mudah bimbang, mudah lalai, yaa pokoknya kita ini bagaikan butiran debu yang tak ada kekuatan menghadapi kejamnya dunia ini aja. Dalam hal ini Allah sudah sebutkan dalam surat Al-Ashr yang artinya:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan menasehati untuk kesabaran.”
Kawan, dalam hidup ini kita seringkali menghadapi banyak masalah. Kita seringkali terlalu percaya diri bahwa kita mampu menyelesaikan masalah dengan kemampuan yang kita punya. Tapi sadarkah kamu? Ketika kau buntu tidak menemui jalan keluar kita seringkali frustasi, minta tolong kepada manusia tapi tak ada dari mereka yang mengerti dengan masalah kita, akhirnya kita putus asa dan seakan-akan hidup ini sudah tak ada artinya lagi. Ya memang akhir-akhir ini sering terjadi bunuh diri, ya karena mereka belum memiliki iman, tidak merasa bahwa mereka sebenarnya punya tempat bergantung yaitu kepada Allah, atau malah justru menyerah berharp kepada Allah. Wallaahu a’lam.

Kawan, ketahuilah bahwa Allaah tak serta merta memberikan apa yang kamu inginkan dengan cuma-cuma. Ketika kau berharap agar selalu ikhlas dalam mengerjakan aktivitas, maka Ia akan mengujimu dengan hal-hal yang membuat keikhlasanmu terganggu. Jika kau berhasil, maka kau pun berhasil meraih apa yang kau pinta. Ketika kau meminta agar diberi pasangan terbaik, maka Allah akan menutup kesempatan-kesempatan bagi pria “nakal” untuk menyentuhmu dan mempertemukanmu dengan jodohmu dengan cara yang elegan (baca: sesuai syariat Islam).


Begitulah cara Allaah menyayangi hamba-Nya. Ia takkan serta merta memberikan apa yang kita inginkan tanpa kita melewati sebuah rintangan. Ia ingin agar kita dipantaskan dahulu sebelum meraih apa yang kita harapkan. Maka yang terpenting disini adalah agar hati kita selalu bersih jauh dari prasangka buruk kepada-Nya. Cobalah untuk belajar mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kau alami, karena disitu terdapat pelajaran berharga yang akan  mendewasakanmu dan itu akan membuatmu selalu merasa bersyukur akan kebaikan-Nya. Ya contohnya begini, ketika kau terjebak macet saat menuju kampus, ternyata di laboratorium kampus terjadi ledakan yang menyebabkan banyak korban jiwa. Pada awalnya kau akan jengkel dengan kemacetan itu, namun pada akhirnya kau merasa bersyukur karena kau diselamatkan oleh Allaah melalui kemacetan.

Jumat, 27 Maret 2015

Benarkah Ganti Presiden adalah Solusi?

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim…
Malam ini dikejutkan dengan kabar yang mencekak pikiranku, harga BBM lagi-lagi naik setelah sempat turun. Tak ada siaran live di tv mengenai siding kenaikan harga, semua terjadi mendadak tepat pukul 00.00 WIB 28 Maret 2015. Ada apa ini? padahal baru saja teman-temanku yang aktivis turun aksi di depan istana Bogor mewakili almamater kampusku bersama para aktivis kampus yang lain. Apa yang ada di pikiran para penguasa? Tak takutkah mereka kejadian 1998 terulang lagi? Sungguh, ini menimbulkan beribu pertanyaan berkeliaran di kepalaku..
Akupun merenung, sejak lengsernya masa orde baru yang ditokohi oleh Soeharto sebagai rezim penguasa, artinya kita masuk dalam masa reformasi. Lalu pada masa reformasi, berganti tahun ke tahun, berganti presiden demi presiden, sepertinya tak ada perubahan yang lebih baik. Katanya Indonesia sudah merdeka hampir 70 tahun. Bayangkan, itu seusia kakek/nenek kita lho. Kupikir, setelah masa reformasi justru malah terjadi keselewengan yang kebablasan. Seharusnya Indonesia saat ini sudah cukup matang untuk mandiri, namun nyatanya sampai detik ini negara yang kaya sumber daya alam masih saja meringis kesakitan karena dipimpin oleh para penguasa boneka.
Kawan, kau tahulah maksud tulisan paragraf keduaku seperti apa. Kau juga bisa merasakan betapa banyak orang-orang miskin di sekitar kita sepanjang hidupnya hanya merasakan kesengsaraan hidup akibat ekonomi yang tak kunjung membaik. Sungguh, banyak ketidakadilan terjadi tepat di depan mata kita. Lihatlah para orang tua renta yang dituduh mencuri sandal, mencuri kakao, kayu jati, mereka dihukum penjara bertahun-tahun tanpa diberi keringanan. Sedangkan para koruptor yang jelas-jelas mencuri uang rakyat milyaran bahkan triliyunan masih bisa diberi remisi. Anak kecil pun tahu bahwa perbuatan itu tidaklah masuk akal. Lalu apa yang salah dengan Indonesia? Setiap ada pemilihan presiden baru, kita selalu menaruh harapan besar kepada calon presiden itu. Aku ingat betul bagaimana saat Pak Jkw terpilih sebagai presiden begitu antusiasnya masyarakat terutama rakyat wong cilik yang menjadi “korban” blusukannya Pak Jkw. Namun apa? Kekejaman yang sama terjadi lagi. Bahkan lebih mencekik lagi kebijakan Pak Jkw dibandingkan periode pemerintahan Pak SBY.
Lalu aku berpikir lagi. Jikalau seandainya Pak Jkw tercinta akhirnya menanggalkan jabatannya dengan sukarela ataupun terpaksa, siapa yang akan menggantikan beliau? Akankah keadaannya lebih membaik? Yang kutahu dan kurasakan, tak ada perubahan signifikan pada peningkatan segala lini kehidupan bangsa Indonesia setelah mengalami 7 kali pergantian rezim presiden. Masa reformasi nyatanya tidak memberikan hasil yang membaik. Kemudian timbul dalam benakku sebuah pertanyaan. Mungkinkah semua ini karena sistem pemerintahan yang saat ini kita anut? (baca: demokrasi) yang kutahu, system demokrasi merupakan system warisan dari penjajah kita terdahulu. Sudah menjadi rahasia umum bahwa negara kita diatur oleh “orang asing” yang memiliki kepentingan di negeri ini. mereka menjejalkan kita dengan sistem yang saat ini kita sebut sebagai demokrasi. Lalu timbul sebuah pertanyaan. Mengapa tak kita coba gulingkan saja sistem demokrasi dengan sistem yang lebih baik? Nyatanya berganti presiden tak juga efektif meningkatkan kualitas bangsa Indonesia. Lalu apa kira-kira system yang terbukti mampu memperbaiki segala aspek kehidupan negara berdasarkan bukti sejarah? Kemudian teringat olehku sebuah system negara yang diusung oleh Rasulullah. Sebuah system negara yang mampu bertahan berabad – abad lamanya dan terbukti mampu memperbaiki segala aspek kehidupan masyarakat baik dari segi politik, sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan teknologi. Ya, sistem Khilafah ‘ala minhaj An-nubuwwah. Mungkin bagi mayoritas masyarakat masih terdengar asing, atau bahkan identik dengan “teroris”. Miris memang, karena para “orang asing” ini tak mau Indonesia bangkit karena menggunakan sistem yang benar sehingga menciptakan opini yang negative tentang tegaknya khilfah khususnya melalui pemberitaan yang negatif tentang ISIS secara terus menerus dimana ISIS diidentikkan sebagai ikon khilafah yang menakutkan. Lalu seperti apa sistem khilafah yang sebenarnya? Seperti apa sejarahnya? Tunggu postinganku selanjutnya mengenai penjabarannya. ^_^


Minggu, 08 Februari 2015

Seorang Pemimpin yang Sesungguhnya

Surat Imam Hasan Al Basri kepada Khalifah 

            Syaikh Abdul Aziz Al Badri dalam kitabnya Al Islam bainal Ulama wal Hukkam menukil jawaban Imam Hasan Al Basri kepada pertanyaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Amirul Mukminin, tentang sifat-sifat imam yang adil.
            Beliau menjawab:
            “Sesungguhnya Allah menjadikan Imam yang adil itu untuk meluruskan yang bengkok, membimbing yang zalim, memperbaiki yang rusak, membela yang lemah, pelindung bagi yang teraniaya, menjadi perantara Allah dengan para hamba-Nya, mendengarkan firman Allah dan memperdengarkan-Nya, melihat Allah dan diperkenalkannya, tunduk kepada Allah dan membimbing hamba-hamba-Nya.
            Dia seumpama seorang budak yang dipercaya oleh tuannya untuk menjaga dan memelihara harta dan keluarganya. Dia tidak akan menghukum dengan hukum jahiliyah. Tidak mengikuti jalan orang yang zalim, tidak akan membiarkan orang yang zalim berbuat sewenang-wenang terhadap yang lemah, pemegang wasiat anak yatim dan amanat orang miskin, mendidik yang kecil dan mengawasi yang besar.”.
            Singkat jawaban ulama pewaris Nabi itu, tapi padat dan bernas. Beberapa pelajaran yang kita peroleh dari jawaban tersebut antara lain:
            Pertama, Imam atau kepala negara yang adil itu adalah orang yang mendapatkan amanat kekuasaan dari Allah, walau secara operasionalnya adalah dipilih rakyat, untuk meluruskan yang bengkok agar lurus kembali sesuai dengan syariat Allah SWT. Oleh karena itu, bila ada yang murtad atau menyimpang dari syariat, segera diminta bertaubat dan kalau mau ambil tindakan yang tegas, baik diberikan hukuman atau diperangi.
            Kedua, Imam itu mendapatkan amanat kekuasaan untuk menghilangkan kezaliman dan dengan kekuasaannya itu dia wajib melindungi kaum yang lemah yang biasanya menjadi korban kezaliman.
            Ketiga, Imam itu menjadi munafidzur risalah, eksekutif yang menjalankan hukum-hukum Allah. Oleh karena itu, dia harus mendengarkan firman Allah yang menjadi sumber hukum Allah dan memperdengarkan kepada masyarakat agar mereka tahu hukum-hukum Allah dan menegakkannya dengan memberikan peringatan dan sanksi kepada siapa saja yang melanggarnya. Imam menyelenggarakan pendidikan gratis kepada rakyat agar mereka tahu ilmu-ilmu syariat. Imam menanggung semua biayanya dengan memberikan gaji dan kompensasi kepada para alim ulama untuk menyampaikan ilmunya kepada masyarakat. Imam menjamin kesejahteraan mereka lahir batin sebelum menghukum mereka yang ingkar. Imam itu membimbing para hamba Allah agar tunduk kepada hukum-hukum Allah SWT sebagai wujud ibadah kepada-Nya.
            Keempat, Imam laksana budak yang menjaga dan memelihara harta dan keluarga tuannya. Tentu saja budak itu akan menjalankan tugasnya sesuai dengan SOP (Standard Operational System) yang diberikan oleh tuannya. Oleh karena itu, Imam yang menerima amanat kekuasaan untuk mengurus rakyat muslim tidak akan menggunakan hukum jahiliyah, yakni hukum selain Islam. Sebab hal itu bukan SOP yang dititahkan Allah kepada para Imam. SOP dari Allah SWT adalah syariat Islam yang sempurna. Bukankah Allah SWT berfirman kepada para Imam atau kepala negara kaum muslimin sebagaimana Dia SWT berfirman kepada kepala negara pertama kaum muslimin, yakni baginda Rasulullah saw.:
            “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al Maidah 49)
            Juga Dia SWT berfirman:
            “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah 50)
            Sungguh, indah sekali jika penguasa hari ini bersikap seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seorang imam yang adil dan tawadlu, gemar bertanya kepada ulama. Dan sungguh indah sekali kehidupan ini, bila para ulama bersikap seperti Imam Hasan Al Bashri, pemimpin para ulama waratsatul anbiya, orang-orang yang lugas, yang menyampaikan amanat ilmu apa adanya, tanpa tedeng aling-aling. Para ulama yang tidak punya rasa takut kecuali hanya kepada Allah, para ulama yang melihat penguasa laksana melihat kucing. Wa Islama, wa ulama, wa imama!
Muhammad Al Khaththath

Sumber artikel:
Suara Islam edisi 44 tanggal 16 – 29 Mei 2008 M/10 – 23 Jumadil Awal 1429 H

Selasa, 18 November 2014

BBM Naik? So What Must We Do?

                Jujur, ane bukan termasuk orang yang peduli amat soal pemerintahan dan perpolitikan di Indonesia. Maklum, sudah terlanjur eneg dengan kebusukan – kebusukan yang dibungkus rapih dengan kata – kata mainstream—ya contohnya kata – kata yang kaya di slogan – slogan kampanye itu lho—. Tapi ane gak habis pikir, kok bisa ya BBM di Indonesia naik sedangkan BBM di dunia turun harganya? Apa masalahnya? Mana janji – janji Pak JKW yang katanya identik dengan kedekatan dengan rakyat? Ini menjadi tanda tanya besar bagi rakyat Indonesia sendiri terutama bagi rakyat wong cilik yang sudah sangat berharap dengan Pak JKW ini. Lalu apa kita diam saja menghadapi situasi seperti ini? Tidak, kawan.
                Lalu apa yang harus kita perbuat? Demo, rusuh, menghancurkan istana presiden, serang gedung DPR, atau apa? Ane nggak menyalahkkan rakyat yang anarkis karena marah dengan pemerintah yang menaikkan harga BBM. Ane juga nggak menganggap aksi – aksi yang dilakukan mahasiswa baru – baru ini hanya usaha sia – sia. Ya kita lihat saja bagaimana proses tergulingnya pemerintahan orde baru. Ya, dengan aksi – aksi para mahasiswa seluruh nusantara untuk mengepung gedung – gedung milik pemerintahan. Aksi yang anarkis? Betul. Karena jika bukan cara demikian, mungkin saja sampai saat ini pemerintahan orde baru masih eksis melenggang samapi saat ini. Tapi yasudahlah, ane menawarkan alternatif lain yang lebih damai.
                Ane itu seorang pecinta dunia eksperimen yang berbau sains khususnya di bidang kimia dan biologi—walaupun sampai saat ini belum juga menghasilkan satu buah karya penelitian, hikss—. Terbesit dalam pikiran ane, mengapa mahasiswa – mahasiswa ber-background sains tidak mencari alternatif yang lain saja untuk menggantikan BBM yang sekiranya lebih ekonomis dan efisien dan dapat merealisasikannya minimal skala kota? Ane sering surfing on internet dan ternyata banyak sekali pelajar (siswa dan mahasiswa) yang sudah berhasil membuat inovasi untuk alternatif BBM. Unik – unik, dimulai dari pemanfaatan urin (air kencing), pemanfaatan biodiesel dari minyak jelantah, ide menerapkan mobil listrik, dan masih banyak lagi. Kreatif – kreatif kan pelajar – pelajar Indonesia? Tetapi belum semua ide itu terealisasikan apalagi sampai skala nasional. Lalu apa yang menjadi masalah? Ane berasumsi bahwa pemerintah secara umum—walaupan ada juga yang peduli seperti Pak Dahlan Iskhan—kurang memperhatikan ide – ide kreatif itu, hanya sebatas mengapreasiasi dengan kata – kata dan mendukung hanya sekedarnya. Ane pikir, jika pemerintah benar – benar peduli dengan masalah energi di Indonesia terutama masalah bahan bakar minyak dan bersungguh – sungguh merealisasikannya, bukan hal yang mustahil bagi Indonesia untuk menjadi negara maju yang bahkan bisa sejajar dengan Jepang, wallaahu a’lam. Jadi, mungkin saja ini salah satu alasan kebanyakan para pelajar Indonesia yang merantau ke luar negeri memilih menetap di sana berkarya dan berkarier. Sudah gaji besar, dihargai pula, enak bukan? Hehe...
                Itu hanya sedikit gambaran saja dari hipotesis (dugaan) ane. Coba mari kita fokus mencari solusi. Ane pikir, mengapa para inovator tidak bekerja sama dengan pengusaha Indonesia yang peduli dengan masalah energi terutama dalam hal BBM? Daripada kita berharap – harap dan mengecam pemerintah, ane pikir paling tidak alternatif BBM dapat terealisasi skala daerah atau sampai kota. Asalkan para saintis dan pengusaha yang peduli dengan masalah rakyat—camkan, yang PEDULI. Karena ane pikir jika pengusaha hanya sekedar untuk mencari keuntungan, ane rasa inovasi tersebut tidak akan jalan—mau bekerja sama, ane yakin insya Allah ide – ide itu bisa terealisasi. Paling tidak, kita dapat menolong diri kita dan masyarakat sekitar dalam skala daerah. Siapa tahu, ternyata banyak pengusaha – pengusaha di luar kota yang tertarik dengan inovasi kita dan akhirnya mau mengembangkan usahanya lewat inovasi kita.

                Cukup sekian postingan dari ane. Senang rasanya bisa kembali menulis lagi. Kritik dan saran sangat dibutuhkan, untuk menolong diri kita dan masyarakat lainnya yang kalang kabut memikirkan mahalnya ongkos dan jajan sehari – hari, hehe.. J

Jumat, 19 September 2014

Aku Pergi Sebentar kok, Ma, Pa.

                Mungkin merantau adalah pilihan yang berat bagi beberapa orang. Namun apa daya bila merantau adalah pilihan terbaik untuk membangun masa depan, mau tak mau hal itu akan tetap dilakukan. Aku memutuskan untuk memilih Bogor sebagai tempat rantauanku yang tidak begitu jauh dengan Bekasi, tetapi bagiku tetap saja sedikit terasa berat dalam hati ini untuk berpisah dengan orang tua. Namun pernahkah kita berpikir saat di tanah rantauan kita tidak bisa menemani orang tua kita di saat – saat terakhirnya? Tiba – tiba terdengar kabar tidak menyenangkan yang asalnya dari rumah kita sendiri. Dan saat itu pula timbul rasa penyesalan yang tiada lagi berguna. Kita tak tahu umur kita sampai batas mana. Kita hanya asik saja dengan dunia rantauan kita yang begitu menantang, hingga lupa menghubungi atau kembali ke kampung halaman saat sedang libur. Ya, soal ini memang di luar kuasa kita.
                Mungkin kita memang butuh waktu lama untuk hidup mandiri tanpa orang tua, tetapi kita lupa bahwa sebenarnya orang tua sudah sangat rindu dengan kehadiran kita meski kadang diungkapkan. Mereka mengharapkan kabar dari kita, tapi seringkali kita lalai menghubungi mereka untuk sekedar menyapa. Satu hal yang penting, jangan sia-siakan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk sekedar bercengkrama dengan orang tua. Banyak – banyaklah berdoa agar kita diberi kesempatan untuk berada di sisi orang tua kita di saat – saat terakhir hidup mereka. Persembahkanlah yang terbaik bagi mereka sebelum datang penyesalan yang teramat dalam.


*sekedar bahan renungan

Senin, 18 Agustus 2014

Sekolah? Masih Berguna Nggak sih?

                Ane sering mengamati anak – anak sekolahan di perkotaan—lebih tepatnya Bekasi, karena ane tinggal dan  dulu sekolah di kota metropolitan itu—bagaimana pergaulan mereka, bagaimana dedikasi mereka atas ilmu yang sudah mereka peroleh dari bangku sekolah setelah lulus, bagaimana style mereka di jalanan, dan sebagai-bagainya. Lalu apa hasil pengamatan ane? Jauh dari kata “baik”. Mayoritas dari mereka memiliki akhlak yang kurang baik terhadap guru, orang tua, dan sesama mereka sekalipun. Tak perlu disebutkan seperti apa ketidaksopanannya, agan dan sista semua bisa lihat replika alias contohnya di sinetron – sinetron remaja yang sekarang – sekarang ini sedang tayang. Bisa jadi mereka meniru gaya – gaya yang ada di sinetron – sinetron itu, xixixi~. :3
                Lalu selanjutnya yang nggak kalah penting yaitu bagaimana hasil dari belajar mereka selama di sekolah. Kalau ane perhatikan para alumnus, sepertinya banyak dari mereka yang lupa dengan pelajaran – pelajaran sekolah—termasuk ane juga sih u.u—bahkan mengerti saja tidak. Lalu bagaimana mereka mengimplementasikan ilmu yang didapat di sekolah sedangkan mengerti aja nggak? Itu bukan salah mereka sepenuhnya. Minat dan motivasi serta kualitas guru juga menjadi salah satu faktor utama. Jika para siswanya saja tidak tahu untuk apa belajar ipa, untuk apa belajar limit dan integral—yang katanya banyak anak – anak SMA IPA termasuk ane—sering bikin pusing tujuh keliling, bagaimana ia bisa menumbuhkan minatnya sehingga semangat belajarnya meningkat? Peran guru juga berpengaruh dalam menumbuhkan minat dan motivasi para siswanya, sehingga nggak cuma intelektualitas guru aja yang perlu diperhatikan tetapi juga bagaimana ia bersikap dan berkomunikasi dengan para siswa.
                Ane pernah bertanya kepada seorang ibu rumah tangga yang konon beliau alumni di suatu perguruan tinggi negeri mengapa sekolah –sekolah di luar negeri—maksudnya Negara-negara maju—siswa –siswanya mayoritas lebih berprestasi daripada siswa – siswa di Indonesia yang relatif jam sekolahnya jauh lebih lama. Beliau berpendapat bahwa karena sekolah – sekolah di luar negeri hanya memfokuskan pada bidang – bidang tertentu seperti music saja, sehingga menyesuaikan minat para siswanya dan tidak terlalu membebankan mereka dalam belajar.
                Kalau ditanya sistem pendidikan mana yang ideal? Ane jawab ya sistem pendidikan Islam pada masa kekhalifahan, hehe. Jangan salah sangka dulu, selain karena ane memang seorang muslim, memang terbukti pada  masa itu telah melahirkan ilmuwan – ilmuwan hebat yang mampu mencipatakan banyak inovasi dan penemuan yang bahkan jadi rujukan di seluruh dunia sampai saat ini. Contohnya ilmuwan matematika pada masa kekhilafahan Al-Abbasiyah yaitu Al-Khawarizmi.   Al-Khawarizmi adalah tokoh utama dalam kajian matematika Arab, penyusun tabel astronomi, dan penemu Aljabar pada masa Khalifah Al-Makmun. Ibnu Sina adalah seorang ilmuwan muslim yang dikenal dengan julukan “Raja diraja Dokter” dan “Raja Obat” serta dianggap sebagai perintis tentang penyakit syaraf dan berbagai macam penyakit. Selain di bidang kedokteran, Ibnu Sina juga terkenal sebagai saintis ulung dan sebagai filosof. Karya-karya Ibnu Sina sangat terkenal di Barat terutama di berbagai perguruan tinggi di Prancis, salah satu karyanya yaitu Al-Qanun fi At-Tibb dan Asy-Syifa. Dan masih sederet ilmuwan lainnya yang menyumbang inovasi –inovasi besar bagi peradaban dunia pada masa kejayaan Islam. Kalau ditanya lagi seperti apa sistem pendidikan Islam yang ideal seperti apa? Hmmm, ini akan jadi PR bagi ane dan ente – ente semua bagi yang masih penasaran dan prihatin akan pendidikan di Indonesia. Yang jelas, dalam pendidikan, yang perlu ditekankan terlebih dahulu ialah pendidikan agama yang intensif baru merambah ke bidang ilmu lainnya. Sayangnya pada era masa – masa ane sekolah, sepertinya pelajaran agama hanya sebatas itu – itu aja yang dibahas, kurang adanya perkembangan dan dibahas hanya secara garis besar saja. Yang lebih memprihatinkan lagi, belajar agama hanya satu kali dalam satu pekan. Entah bagaimana dengan kurikulum 2013 yang baru ini, apakah ada perubahan? J

                Akhir kata, buat adik – adik yang masih berada di bangku sekolah, tolong manfaatkan sebaik mungkin ilmu yang adik –adik peroleh di bangku sekolah. Jangan seperti kakakmu ini yang menyesal karena tidak semua pelajaran di sekolah ane paham betul dan akhirnya tidak tahu bagaimana mengimplementasikannya. Jikalau adik – adik tidak benar – benar serius menjalani sekolah, coba pikir ulang lagi mengenai niat kalian untuk sekolah, pikirkan bagaimana susahnya orang tua mencari nafkah untuk adik – adik bisa sekolah lalu adik – adik sia –siakan kesempatan meraih ilmu begitu aja. Pikirkan, dik. J

Jumat, 15 Agustus 2014

Rasanya Jadi Mahasiswa itu….

Tidak terasa, sudah satu tahun lamanya aku menempuh hidupku sebagai seorang mahasiswa. Kupikir kehidupan sebagai seorang mahasiswa itu menyeramkan. Dosen yang kurang ramah, tugas yang bertumpukan, pergaulan yang lebih bebas, dan sederet pikiran negatif lainnya. Memang ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya benar. Lalu mana yang benar? Hehe jangan diambil pusing. ^^ oke, kalin ini aku ingin sedikit berbagi cerita mengenai pengalamanku selama satu tahun itu.
                Kurang lebih pada tanggal 15 Agustus 2013, aku mengikhlaskan diri untuk menerima tawaran sebagai mahasiswa Akademi Kimia Analisis Bogor. Dan dari situlah sederet perjuanganku dimulai. Pada awalnya aku memang agak kaget dengan sederetan aktivitas yang menghujam. Bingung? Sudah jelas. Mengapa bingung? Karena aku keteteran untuk mengejar tiap target – target. Sebagai seorang mahasiswa bertitel sains, sudah barang tentu aku menjalani sederetan praktikum di laboratorium beserta pengerjaan laporannya. Ditambah lagi kampusku adalah akademi, sudah jelas para asdos*nya akan mendidik kami dengan kedisiplinan. Disamping laporan praktikum yang harus diselesaikan, sederetan tugas kelompok dan individu yang harus selesai juga tepat waktu, aku juga meluangkan waktuku untuk ikut organisasi dan kepanitiaan di kampus. Lelah? Sudah tentu. Bahkan aku sempat menangis karena merasa tidak sanggup menjalani semua aktivitas itu. Namun kesibukan itu ternyata memberi banyak pelajaran berharga bagiku. Melaluinya, aku bisa berpikir sedikit –pake banget—lebih dewasa. Aku juga bisa bertemu teman – teman yang hebat dan menginspirasiku sengaja ataupun tidak sengaja. Aku menjadi lebih mengerti bagaimana memenej waktu dengan baik, memahami perbedaan tiap karakter seseorang, merasa lebih banyak mendekatkan diri kepada Allaah, daaan sebagai bagainya.
                Masalah pergaulan, alhamdulillaah aku tidak perlu khawatir soal itu. Selama kita menjaga diri dalam poros kebaikan, insya Allaah kita akan terhindar dari pergaulan bebas. Bila kau mencari teman yang baik, carilah mereka di tempat yang baik. Bila kau sering berada di tempat yang buruk, maka kau akan sering berkawan dengan orang – orang yang tidak baik. Persis seperti yang dipepatahkan Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam. Bila kau dekat – dekat dengan tukang parfum, maka bajumu akan bau parfur. Bila kau dekat – dekat dengan tukang  besi, maka bajumu akan bau besi.
                Namun sederetan aktivitas yang dijalani harus didasari dengan apa yang ingin dicapai di masa depan. Bila kita sibuk gak karuan hingga mengabaikan tujuan utama kita yaitu akademik –seperti yang diamanahkan oleh orang tua—dan hasilnya nihil, itu sama saja akan membuang banyak waktu kita dan menyisakan penyesalan di akhir nanti. Kita perlu memikirkan tiap resiko dari apa yang kita putuskan untuk mengurangi rasa penyesalan di akhir cerita.
                Pada intinya, saat aku menjadi seorang mahasiswa, aku merasa lebih bebas mengeksplor diri ke dalam hal – hal yang menyangkut cita – citaku. Biasanya, jati diri seorang anak muda akan semakin terlihat ketika ia memasuki masa – masa kuliah, dimana ia lebih bebas menentukan pilihan hidupnya dan cara menyikapi setiap tantangan yang dihadapinya. Oleh karena itu, sebelum menempuh usia remaja, orang tua harus mempersiapakan baginya ilmu agama yang kuat agar anak tidak salah langkah dalam mengambil langkah untuk hidupnya.

                Dan di akhir kata aku ucapkan, selamat menempuh gerbang perkuliahan, nikmati masa – masamu sebagai seorang mahasiswa. Menjadi seorang mahasiswa bukan soal belajar belajar  dan belajar, tetapi juga soal pengabdian ke masyarakat. Karena saat ini masyarakat memang sangat membutuhkan uluran tangan para mahasiswa yang memiliki kesempatan lebih untuk mengenyam ilmu.

*asdos: asisten dosen